Oleh: Andrew Ho
"Setiap perubahan, meskipun untuk menuju hal yang lebih baik, selalu diiringi oleh keberatan dan kegelisahan." Arnold Bennett (1867-1931), pujangga dan novelis asal Inggris
Pengalaman pahit menjadi bagian yang tak dapat terpisahkan dalam kehidupan kita, misalnya tidak dihargai, dilecehkan, difitnah, disakiti, gagal, dan lain sebagainya. Namun pengalaman terpahit sekalipun dapat menjadi titik tolak mencapai puncak kejayaan dan kebahagiaan jika kita memiliki kekuatan memperbaiki diri terus menerus. Alangkah besar keuntungan yang dapat kita peroleh jika kita mampu membuka kunci kekuatan tersebut.
Salah satu manfaat jika kita selalu memperbaiki diri adalah mampu mengantisipasi kejadian buruk menimpa kita. Bukankah lebih menguntungkan seandainya kita terus mencoba mengurangi kebiasaan makan berlebih sebelum obesitas, berhenti merokok sebelum terserang sakit stroke, atau kebiasaan buruk lainnya sebelum sakit, dibenci orang dan bangkrut? Dengan terus memperbaiki diri, keadaan kita sudah siap atau bahkan lebih baik, ketika muncul sinyal segala sesuatu menjadi sulit.
Kekuatan memperbaiki diri akan membantu kita menyesuaikan diri dengan perubahan terkecil sekalipun, sehingga tidak sampai terjerembab dalam kesulitan yang lebih besar. Ibaratnya, seekor katak mungkin langsung melompat keluar jika dimasukkan kedalam air panas. Tetapi mungkin ia akan terjebak dalam tungku air dan mati terbunuh jika perubahan suhu dalam air naik perlahan sampai di titik didih. Artinya, kita tidak akan tergilas oleh perubahan yang terus berlangsung jika kita terus memperbaiki diri.
Memperbaiki diri akan memberi kita rasa percaya diri dan nyaman dengan keadaan diri sendiri. Mungkin bila kita melihat seorang pengusaha muda atau artis sukses berharap dapat bertukar posisi dengannya. Padahal belum tentu mereka merasa nyaman dengan keadaan mereka sendiri. Artinya kita tidak akan menderita karena kekurangan zat kepercayaan diri dan harapan, jika mempunyai kekuatan atau usaha memperbaiki diri terus menerus.
Di dalam kehidupan ini kita akan terus mengalami naik dan turun. Namun setiap perubahan itu akan terasa menyakitkan jika kita mengabaikan keharusan untuk terus berbenah. Walaupun kemampuan memperbaiki diri sulit dimiliki, tetapi beberapa tips berikut ini mungkin dapat membantu kita membuka kunci kekuatan perbaikan diri.
Pertama adalah milikilah cita-cita dan komitmen untuk mencapainya, sebab cita-cita akan menjadi daya atau semangat juang Anda. Sehingga Anda tidak segan memperbaiki kemampuan dan pengetahuan untuk dapat meraih cita-cita tersebut. Hidup tanpa visi laksana berlayar tanpa tujuan, terasa hampa dan hidup ini sama sekali tak berguna
Sementara itu Anda juga harus yakin pada visi Anda. Mengutip kata Pablo Picasso, seorang pelukis asal Spanyol, "Sesuatu yang dapat kamu bayangkan adalah nyata." Sehingga bila Anda yakin, maka Anda tidak mudah menyerah melakukan tindakan-tindakan positif agar visi Anda segera tercapai, misalnya; ingin langsing dengan rajin olah raga, ingin pintar dengan rajin membaca, ingin lebih dermawan dan dicintai banyak orang dengan membantu lebih banyak sesama, ingin lebih sukses dengan berusaha lebih keras dan lain sebagainya.
Syarat lain untuk dapat membuka kunci perbaikan diri adalah kegigihan. Jadi jangan mudah menyerah ketika menghadapi banyak tantangan atau selalu menghadapi kegagalan. Kegigihan akan mendorong Anda untuk memperbaiki diri terus menerus. Seiring dengan kualitas personal dan profesional Anda yang lebih baik, maka suatu saat tujuan Anda pasti tercapai.
Kunci kekuatan memperbaiki diri adalah mencintai diri sendiri, sebab masing-masing diantara kita pasti memiliki kelebihan. Disamping itu masing-masing diantara kita juga memiliki keunikan tersendiri, sebab tidak seorangpun di dunia ini yang sama persis segala-galanya. Lupakanlah keinginan untuk menjadi orang lain, dengan meningkatkan kualitas, kemampuan, dan kebaikan. Dengan begitu, kekurangan kita tak akan lebih menonjol dibandingkan prestasi, kontribusi, dan kemampuan yang kita miliki.
Masih banyak lagi cara untuk membuka kunci kekuatan perbaikan diri. Namun yang terpenting adalah motivasilah diri Anda untuk terus melakukan perbaikan, sebab perubahan besar akan selalu berawal dari dalam diri sendiri. Ketika Anda sudah menikmati setiap proses memperbaiki diri, berarti Anda juga telah memiliki kemampuan menjadikan segala sesuatu indah, membanggakan, dan membahagiakan.
*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku bestseller.
akhirnya berhasil juga ngumpulin beberapa cerita-cerita. kumpulan cerita kali ini adalah kumpulan cerita mengenai kisah-kisah percintaan dan pernikahan yg cukup indah uk dubaca.
berikut adalah filenya silahkan di download. saya kompresi dan polis dikit. agar bisa menjadi aplikasi yg mudah di bawa-bawa. dan mudah untuk dishare.
http://rapidshare.com/files/334977474/lovesoup.zip
mungkn lain kali, saya akan keluarin edisi soup lainnya.
China yang sekarang muncul sebagai negara super power dahulunya pernah sangat miskin. Dengan jumlah penduduk yang berjumlah 1 milyar kala itu bukan barang mudah bagi pemerintah China untuk mensejahterakan rakyatnya. Hutang luar negeri dari negara tetangga terdekat pun menjadi gantungan yaitu dari negara Uni Sovyet. Alkisah suatu hari terjadi perselisihan paham antara Mao Zedong pemimpin China era itu dengan pemimpin Sovyet. Perselisihan begitu panas sampai keluar statement dari pemimpin Sovyet, "Sampai rakyat China harus berbagi 1 celana dalam untuk 2 orang pun, China tetap tidak akan mampu membayar hutangnya."
Ucapan yang sangat menyinggung perasaan rakyat China itupun disampaikan Mao kepada rakyatnya dengan cara menyiarkannya lewat siaran radio, penghinaan dari pemimpin Sovyet itu, secara terus menerus dari pagi hingga malam ke seluruh negeri sambil mengajak segenap rakyat China untuk bangkit dan melawan penghinaan tersebut dengan cara berkorban.
Ajakan Mao kepada rakyatnya adalah menyisihkan 1 butir beras, ya, hanya 1 butir beras untuk setiap anggota keluarga, setiap kali mereka akan memasak. Jika 1 rumah tangga terdiri dari 3 orang maka cukup sisihkan 3 butir beras. Beras yang disisihkan dari 1 Milyar penduduk China tersebut, tidak dikorupsi tentunya akan menghasilkan 1 milyar butir beras setiap hari. Hasilnya dikumpulkan ke pemerintah untuk dijual. Uangnya digunakan untuk membayar hutang kepada negara pemberi hutang, yang telah menghina mereka. Akhirnya China berhasil melunasi hutang mereka ke Sovyet dalam waktu yang sangat cepat.
Keterhinaan yang mendalam telah membangkitkan rasa nasionalisme China untuk bangkit melawan hinaan tersebut dengan tindakan nyata, bukan hanya tindakan seremonial, pidato atau upacara di stadion besar.
Kiranya kisah di atas bisa dijadikan contoh bagi bangsa kita yang tengah terpuruk di antara bangsa-bangsa sekitarnya. Potensi manusia Indonesia yang demikian besar selama ini tidak menjadi kekuatan bahkan sebaliknya menjadi beban karena mereka tidak dipimpin oleh pemimpin yang tepat. Kita sering silau oleh hal-hal besar namun seringkali mengabaikan kekuatan dari hal kecil namun dilakukan dengan sepenuh hati. Sebutir padi sehari bisa membalik keadaan terhina menjadi terangkat. Maukah kita?
(Kisah di atas diceritakan langsung oleh seorang pengusaha Indonesia yang kerap kali berkunjung ke negara China)
Dipecat dari pekerjaan bukanlah sebuah ‘kiamat’. Justru, barangkali, itulah kesempatan Anda untuk menjadi hebat. Hal inilah yang dialami oleh seorang janda cerai bernama Bette Nesmith Graham.
Bette adalah seorang ibu muda yang tinggal bersama anak semata wayangnya. Demi menghidupi sang anak yang masih kecil, Bette kemudian bekerja menjadi seorang sekretaris di sebuah perusahaan. Sayangnya, perempuan yang pernah bercita-cita jadi artis ini tak punya latar belakang jadi sekretaris. Karena itu, mengetik pun ia seringkali salah.
Suatu kali, ia punya ide unik saat melihat pelukis yang menumpuk warna sebuah gambar dengan cat lain. Dari sana timbul ide untuk menutupi kesalahan ketik di kertasnya. Ia memblender cat yang disesuaikan dengan warna kertas dan dimasukkan ke dalam botol-botol kecil agar mudah dibawa ke mana-mana. Untuk mengoleskan cat ramuannya, ia menggunakan kuas kecil. Hasilnya? Si bos tak tahu kalau beberapa dokumen yang salah sudah ditutupi dengan cat buatan Bette itu.
Melihat efektivitas cat ini, maka teman-teman Bette pun akhirnya ikut memakai cat ramuannya. Ia pun kemudian mengemasnya dalam botol kecil dan diberi nama ”Mistake Out”. Itulah awalnya kemudian ia mendirikan usaha Mistake Out Company di rumahnya.
Putranya pun kemudian membantunya mengemas dalam botol-botol kecil.
Suatu ketika, karena sebuah kesalahan yang tak bisa dimaafkan, Bette dipecat. Meski sempat sedih, rupanya justru inilah jalan Bette membesarkan usahanya. Ia lebih punya banyak waktu untuk memasarkan produk buatannya itu. Dan, pada tahun 1967, perusahaannya itu telah jadi perusahaan besar. Bahkan, perusahaan yang kemudian diberi nama Liquid Paper itu pada tahun 1976 sudah mampu menghasilkan keuntungan bersih lebih dari 1,5 juta dolar. Tahun 1980, sebelum meninggal Bette mampu menjual kepemilikan perusahaan itu seharga 47,5 juta dolar. Sungguh, pemecatan yang jadi keberkahan bagi seorang Bette.
Pada suatu hari seorang pemuda sedang berjalan di tengah hutan, tiba-tiba ia mendengar jeritan minta tolong. Ternyata ia melihat seorang pemuda sebaya dengan dia sedang bergumul dengan lumpur yang mengambang. Semakin bergerak malah semakin dalam ia terperosok. Pemuda yang pertama tadi hendak sekuat tenaga memberikan pertolongannya. Dengan susah payah pemuda yang terperosok itu dapat diselamatkan. Pemuda yang pertama tadi memapah pemuda yang terperosok itu pulang ke rumahnya.
Ternyata si pemuda kedua ini anak orang kaya. Rumahnya sangat bagus, besar dan mewah luar biasa. Ayah pemuda ini sangat berterimakasih atas pertolongan yang diberikan kepada anaknya dan hendak memberikan uang, tetapi pemuda pertama tadi menolak pemberian tersebut. Ia berkata bahwa sudah selayaknya sesama manusia menolong orang lain yang sedang dalam kesusahan. Sejak kejadian ini mereka menjalin persahabatan.
Si pemuda pertama adalah seorang miskin sedangkan pemuda kedua adalah anak seorang bangsawan kaya raya. Si pemuda miskin mempunyai cita-cita menjadi seorang dokter, namun ia tidak memiliki biaya untuk kuliah. Kemudian ada seorang yang murah hati yang mau memberikan beasiswa untuknya sampai akhirnya meraih gelar dokter. Orang ini tak lain adalah ayah pemuda yang ditolongnya tadi.
Tahukah anda nama pemuda miskin yang akhirnya menjadi dokter ini? Namanya Alexander Flemming, yang kemudian menemukan obat penisilin. Si pemuda bangsawan masuk dinas militer dan dalam suatu tugas ke medan perang ia terluka parah sehingga menyebabkan demam yang sangat tinggi karena infeksi. Pada waktu itu belum ada obat untuk infeksi semacam itu. Para dokter mendengar tentang penisilin penemuan Dr.Flemming dan mereka menyuntik dengan penisilin yang merupakan penemuan baru itu. Apa yang terjadi kemudian? Berangsur-angsur demam akibat infeksi itu reda dan si pemuda itu akhirnya sembuh!
Tahukan anda siapa nama pemuda pemuda itu? Namanya adalah Winston Churcill, Perdana Menteri Inggris yang termasyhur itu. Dalam kisah ini kita dapat melihat hukum menabur dan menuai. Flemming menabur kebaikan dan ia menuai kebaikan pula. Cita-citanya terkabul untuk menjadi dokter. Flemming menemukan penisilin yang akhirnya menolong jiwa Churcill. Tidak sia-sia bukan beasiswa yang diberikan ayah Churcill?

Sally baru berumur delapan tahun ketika dia mendengar ibu dan ayahnya sedang berbicara mengenai adik lelakinya, Georgi. Ia sedang menderita sakit yang parah dan mereka telah melakukan apapun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan jiwanya. Hanya operasi yang sangat mahal yang sekarang bisa menyelamatkan jiwa Georgi… tapi mereka tidak punya biaya untuk itu.
Sally mendengar ayahnya berbisik, “Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya sekarang.”
Sally pergi ke tempat tidur dan mengambil celengan dari tempat persembunyiannya. Lalu dikeluarkannya semua isi celengan tersebut ke lantai dan menghitung secara cermat…tiga kali. Nilainya harus benar-benar tepat.
Dengan membawa uang tersebut, Sally menyelinap keluar dan pergi ke toko obat di sudut jalan. Ia menunggu dengan sabar sampai sang apoteker memberi perhatian… tapi dia terlalu sibuk dengan orang lain untuk diganggu oleh seorang anak berusia delapan tahun. Sally berusaha menarik perhatian dengan menggoyang-goyangkan kakinya, tapi gagal.
Akhirnya dia mengambil uang koin dan melemparkannya ke kaca etalase.
Berhasil !
“Apa yang kamu perlukan?” tanya apoteker tersebut dengan suara marah. “Saya sedang berbicara dengan saudara saya.”
“Tapi, saya ingin berbicara kepadamu mengenai adik saya,” Sally menjawab dengan nada yang sama. “Dia sakit…dan saya ingin membeli keajaiban.”
“Apa yang kamu katakan?” ,tanya sang apoteker.
“Ayah saya mengatakan hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan jiwanya sekarang… jadi berapa harga keajaiban itu ?”
“Kami tidak menjual keajaiban, adik kecil. Saya tidak bisa menolongmu.”
“Dengar, saya mempunyai uang untuk membelinya. Katakan saja berapa harganya.”
Seorang pria berpakaian rapi berhenti dan bertanya, “Keajaiban jenis apa yang dibutuhkan oleh adikmu?”
“Saya tidak tahu,” jawab Sally. Air mata mulai menetes dipipinya.
“Saya hanya tahu dia sakit parah dan mama mengatakan bahwa ia membutuhkan operasi.
Tapi kedua orang tua saya tidak mampu membayarnya… tapi saya juga mempunyai uang.”
“Berapa uang yang kamu punya ?” tanya pria itu lagi.
“Satu dollar dan sebelas sen,” jawab Sally dengan bangga.
“Dan itulah seluruh uang yang saya miliki di dunia ini.”
“Wah, kebetulan sekali,” kata pria itu sambil tersenyum. Satu dollar dan sebelas sen… harga yang tepat untuk membeli keajaiban yang dapat menolong adikmu. Dia Mengambil uang tersebut dan kemudian memegang tangan Sally sambil berkata, “Bawalah saya kepada adikmu. Saya ingin bertemu dengannya dan juga orang tuamu.”
Pria itu adalah Dr. Carlton Armstrong, seorang ahli bedah terkenal….
Operasi dilakukannya tanpa biaya dan membutuhkan waktu yang tidak lama sebelum Georgi dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat.
Kedua orang tuanya sangat bahagia mendapatkan keajaiban tersebut.
“Operasi itu,” bisik ibunya, “Adalah seperti keajaiban. Saya tidak dapat membayangkan berapa harganya”
Sally tersenyum. Dia tahu secara pasti berapa harga keajaiban tersebut…satu dollar dan sebelas sen… ditambah dengan keyakinan.
Suatu ketika di sore hari yang terasa teduh, tampak seorang pertapa
muda sedang bermeditasi di bawah pohon, tidak jauh dari tepi sungai.
Saat sedang berkonsentrasi memusatkan pikiran, tiba-tiba perhatian
pertapa itu terpecah kala mendengarkan gemericik air yang terdengar
tidak beraturan.
Perlahan-lahan, ia kemudian membuka matanya. Pertapa itu segera
melihat ke arah tepi sungai di mana sumber suara tadi berasal.
Ternyata, di sana tampak seekor kepiting yang sedang berusaha keras
mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meraih tepian sungai sehingga
tidak hanyut oleh arus sungai yang deras.
Melihat hal itu, sang pertapa merasa kasihan. Karena itu, ia segera
mengulurkan tangannya ke arah kepiting untuk membantunya. Melihat
tangan terjulur, dengan sigap kepiting menjepit jari si pertapa
muda. Meskipun jarinya terluka karena jepitan capit kepiting, tetapi
hati pertapa itu puas karena bisa menyelamatkan si kepiting.
Kemudian, dia pun melanjutkan kembali pertapaannya. Belum lama
bersila dan mulai memejamkan mata, terdengar lagi bunyi suara yang
sama dari arah tepi sungai. Ternyata kepiting tadi mengalami
kejadian yang sama. Maka, si pertapa muda kembali mengulurkan
tangannya dan membiarkan jarinya dicapit oleh kepiting demi
membantunya.
Selesai membantu untuk kali kedua, ternyata kepiting terseret arus
lagi. Maka, pertapa itu menolongnya kembali sehingga jari tangannya
makin membengkak karena jepitan capit kepiting.
Melihat kejadian itu, ada seorang tua yang kemudian datang
menghampiri dan menegur si pertapa muda, "Anak muda, perbuatanmu
menolong adalah cerminan hatimu yang baik. Tetapi, mengapa demi
menolong seekor kepiting engkau membiarkan capit kepiting melukaimu
hingga sobek seperti itu?"
"Paman, seekor kepiting memang menggunakan capitnya untuk memegang
benda. Dan saya sedang melatih mengembangkan rasa belas kasih. Maka,
saya tidak mempermasalahkan jari tangan ini terluka asalkan bisa
menolong nyawa makhluk lain, walaupun itu hanya seekor kepiting,"
jawab si pertapa muda dengan kepuasan hati karena telah melatih
sikap belas kasihnya dengan baik.
Mendengar jawaban si pertapa muda, kemudian orang tua itu memungut
sebuah ranting. Ia lantas mengulurkan ranting ke arah kepiting yang
terlihat kembali melawan arus sungai. Segera, si kepiting menangkap
ranting itu dengan capitnya. "Lihat Anak Muda. Melatih mengembangkan
sikap belas kasih memang baik, tetapi harus pula disertai dengan
kebijaksanaan. Bila tujuan kita baik, yakni untuk menolong makhluk
lain, bukankah tidak harus dengan cara mengorbankan diri sendiri.
Ranting pun bisa kita manfaatkan, betul kan?"
Seketika itu, si pemuda tersadar. "Terima kasih, Paman. Hari ini
saya belajar sesuatu. Mengembangkan cinta kasih harus disertai
dengan kebijaksanaan. Di kemudian hari, saya akan selalu ingat
kebijaksanaan yang Paman ajarkan."
Pembaca yang budiman,
Mempunyai sifat belas kasih, mau memerhatikan dan menolong orang
lain adalah perbuatan mulia, entah perhatian itu kita berikan kepada
anak kita, orangtua, sanak saudara, teman, atau kepada siapa pun.
Tetapi, kalau cara kita salah, sering kali perhatian atau bantuan
yang kita berikan bukannya memecahkan masalah, namun justru menjadi
bumerang. Kita yang tadinya tidak tahu apa-apa dan hanya sekadar
berniat membantu, malah harus menanggung beban dan kerugian yang
tidak perlu.
Karena itu, adanya niat dan tindakan berbuat baik, seharusnya
diberikan dengan cara yang tepat dan bijak. Dengan begitu, bantuan
itu nantinya tidak hanya akan berdampak positif bagi yang dibantu,
tetapi sekaligus membahagiakan dan membawa kebaikan pula bagi kita
yang membantu.
Salam sukses luar biasa!!!
Andrie Wongso
Sumber: Pertapa Muda dan Kepiting oleh Andrie Wongso
Your mind creates and receives thoughts all the time. Sometimes
these thoughts are positive and some may be negative.
These thoughts may also lead to worry, unhappiness and fear. When
this happens, there is no peace of mind. When there is no peace of
mind you do not have inner freedom.
You may live in a free country, yet you may not be free. Real
freedom means to be above thoughts. It means becoming the master of
your mind. It is being able to think and accept into your mind only
the thoughts of your choice, and when there is no need to think, you
just stop thinking.
You switch off the engine of your car when you arrive to your
destination, because there is no necessity for it to keep on
running. Why not do the same with the mind (relaxing the mind)?
Imagine a state when your mind is calm. In this state you become
conscious of your inner self and know who you are. You feel your
inner power.
With the help of concentration, meditation, detachment, calmness,
and the ability to filter and sift thoughts, without getting
involved and swept by them, it is possible to reach and live in real
and true freedom.
Alkisah, ada seorang pelukis terkenal. Hasil lukisannya banyak
menghiasi dinding rumah orang-orang kaya. Si pelukis dikenal dengan
kehalusan, ketelitian, keindahan, dan kemampuan memerhatikan detail
objek yang digambarnya. Karena itu, pesanan lukisannya tidak pernah
berhenti dari para kolektor maupun pecinta barang-barang seni.
Suatu hari, setelah menyelesaikan sebuah lukisan, si pelukis merasa
sangat puas dengan hasil lukisannya. Menurut pandangannya, lukisan
itu sempurna. Maka, dia lantas bermaksud mengadakan pameran lukisan
agar orang-orang dapat menikmati, serta mengagumi keindahan dan
kehebatannya.
Saat pameran, si pelukis meletakkan sebuah buku di dekat lukisan
dengan sebuah tulisan: "Yang terhormat, para pecinta dan penikmat
seni. Setelah melihat dan menikmati lukisan ini, silakan isi di buku
ini komentar Anda tentang kelemahan dan kekurangannya. Terima kasih
atas waktu dan komentar Anda."
Pengunjung pun silih berganti mengisi buku itu. Setelah beberapa
hari, si pelukis pun membaca buku berisi komentar pengunjung pameran
dan dia merasa kecewa sekali dengan banyaknya catatan kelemahan yang
diberikan. "Orang-orang ini memang tidak mengerti indahnya lukisan
ini. Berani-beraninya mereka mengkritik!" batin si pelukis.
Dalam hati, dia tetap yakin bahwa lukisannya itu sangat bagus. Maka,
untuk itu dia ingin menguji sekali lagi komentar orang lain, tetapi
dengan metode yang berbeda. Untuk itu, ia membuat pameran sekali
lagi, namun di tempat yang berbeda. Kali ini, ia juga menyertakan
sebuah buku untuk diisi oleh pengunjung yang melihat lukisannya.
Tetapi kali ini, penikmat lukisannya tidak dimintai komentar
kelemahan, namun untuk memberikan komentar tentang kekuatan dan
keindahan lukisan itu.
Setelah beberapa hari, si pelukis kembali membaca buku komentar
pengunjung. Kali ini, dia tersenyum senang setelah membacanya. Jika
pengunjung yang terdahulu mengkritik dan melihat kelemahannya, maka
komentar yang didapatkannya kali ini berisi banyak pujian dan
kekaguman atas lukisan yang dibuatnya. Bahkan, banyak dari hal-hal
yang dikritik waktu itu, sekarang justru dipuji.
Dari kedua pameran lukisan yang diadakannya, si pelukis mendapatkan
sebuah pembelajaran bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Apa
pun yang kita kerjakan, sehebat, dan sesempurna apa pun menurut
kita, ternyata di mata orang lain, ada saja kelemahan dan
kritikannya. Namun, pastilah ada juga yang memuji dan menyukainya.
Jadi, tidak perlu marah dan berkecil hati terhadap komentar orang
lain. Asalkan kita mengerjakan semua pekerjaan dengan sungguh-
sungguh dan dilandasi niat baik, itulah persembahan terbaik bagi
diri kita sendiri.
Pembaca yang budiman,
Memang, kehidupan di dunia ini tidak ada yang sempurna, (mei yu sek
jien sek me). Apa yang kita pikirkan, yang kita yakini, yang kita
kerjakan, dan yang kita hasilkan, pasti selalu ada sisi pro dan
kontra. Maka, kalau kita bersikukuh dengan sesuatu yang kita miliki
dan kita yakini, maka hal tersebut bisa jadi justru mendatangkan
masalah, konflik, atau bahkan rasa antipati. Tentu, jika itu yang
terjadi, akan membuat kita tidak bahagia,
Namun, jika kita mampu menghargai setiap perbedaan sebagai hak asasi
setiap insan, maka akan timbul keselarasan dan keharmonisan. Jika
kita bisa menerapkan toleransi dan saling menghargai, maka ke mana
pun kita pergi, dengan siapa pun kita bergaul, akan selalu ada
tempat yang nyaman dan damai buat kita sehingga kebahagiaan selalu
kita rasakan.
Salam sukses Luar Biasa!!!
Sumber: Komentar Lukisan oleh Andrie Wongso
Pada suatu pagi hari di sebuah musim gugur, tampak seorang anak
bekerja menyapu halaman luar sebuah asrama. Pohon-pohon yang rindang
di sekitar situ tampak berguguran daunnya. Walaupun bekerja dengan
rajin dan teliti menyapu dedaunan yang rontok, tetap saja halaman
dikotori dengan ranting dan daun.
"Aduh capek deh. Biarpun menyapu dengan giat setiap hari tetap saja
besok kotor lagi. Bagaimana caranya ya supaya aku tidak harus bekerja
terlalu keras setiap hari?" sambil masih memegang sapu, si anak sibuk
memutar otak memikirkan cara yang jitu.
Kepala asrama yang melintas di situ menghampiri dan menyapa, "Selamat
pagi Anakku, kenapa kamu melamun? Apa gerangan yang sedang kamu
pikirkan?"
"Eh, selamat pagi Paman. Saya sedang berpikir mencari cara bagaimana
supaya halaman ini tetap bersih tanpa harus menyapunya setiap hari.
Dengan begitu kan saya bisa mengerjakan yang lain dan tidak harus
melulu menyapu seperti sekarang ini."
Sambil tersenyum si paman menjawab, "Bagaimana kalau kamu coba
menggoyangkan setiap pohon agar daunnya jatuh lebih banyak. Siapa
tahu, dengan lebih banyak daun yang gugur, paling tidak besok daunnya
tidak mengotori halaman dan kamu tidak perlu menyapu."
"Wah ide Paman hebat sekali!" segera dia berlari mendekat ke batang
pohon dan menggoyang-goyangkan sekuat tenaga. Semua pohon
diperlakukan sama, dengan harapan, setidaknya besok dia tidak perlu
menyapu lagi. "Lumayan bisa istirahat satu hari tidak bekerja,"
katanya dalam hati dengan gembira.
Malam hari si anak pun tidur dengan nyenyak dan puas. Ketika bangun
keesokan harinya, cepat-cepat dia berlari keluar kamar. Seketika
harapannya berubah kecewa saat melihat halaman yang kembali dipenuhi
dengan rontokan daun-daun. Saat itu pula paman sedang ada di luar dan
memperhatikan ulahnya sambil berkata, "Anakku, musim gugur adalah
fenomena alam. Bagaimanapun kamu hari ini bekerja keras menyapu daun-
daun yang rontok, esok hari akan tetap ada daun-daun yang rontok
untuk di bersihkan. Kita tidak bisa merubah kondisi alam sesuai
dengan kemauan kita. Daun yang harus rontok, tidak bisa ditahan atau
dipaksa rontok. Maka jangan kecewa karena harus bekerja setiap hari.
Nikmati pekerjaanmu dengan hati yang senang, setuju?" kata si paman
memberikan sebuah pelajaran hidup yang begitu berarti.
"Setuju paman. Terima kasih atas pelajarannya," segera dia berlari
menghampiri sapunya.
Pembaca yang budiman,
Kalau kita bekerja dengan suasana hati yang tidak gembira, maka semua
pekerjaan yang kita lakukan akan terasa berat dan mudah timbul
perasaaan bosan.
Pepatah mandarin mengatakan:
Jin tian de shi qing jin tian zuo, Ming tian hai you xin gong zuo.
Selesaikan pekerjaaan hari ini dengan baik, besok masih ada pekerjaan
baru yang harus diselesaikan.
Kalau kita telah mampu menikmati setiap pekerjaan dengan penuh
kesadaran dan tanggung jawab, maka setiap hari pasti menjadi hari
kerja yang membahagiakan dan setiap besok menjadi harapan yang
menggairahkan, sehingga kita boleh dengan bangga mengatakan bahwa
bekerja adalah ibadah...
Andrie Wongso
Salam Sukses Luar Biasa!!!
Sumber: Daun Di Musim Gugur oleh Andrie Wongso